Kunci

By

Entah darimana seseorang melihatku begitu kasian untuk pertama kalinya. Dari makanan yg kumakan? Apa dari sosial mediaku? Atau dari omongan yg tak sengaja keluar tanpa kusadari?

Katanya bentuk cinta seorang lelaki adalah memberi. Namun menurutku itu tidak benar. Itu adalah perasaan ego mereka sendiri yg menganggapnya sebagai harga diri, sebuah validasi diri.

Mungkin dari kecil udah terbiasa nganggep diri sendiri ga layak buat apapun ya, jadinya sekarang selalu maunya ngehidupin diri sendiri. Dari mulai sama orang yang ngebawaku ke dunia sampe orang yang ngenalinku akan dunia itu.

Aku selalu bertanya-tanya dan menjelajahi waktu, dari mulai bagaimana aku bisa dilihat seperti ini? Seperti seolah uang dan materi adalah kunci bahagiaku. Kenapa ngambeknya aku adalah bahasa bahwa itu adalah kejahatan dariku. Padahal itu hanyalah reaksi kekecewaan atas diriku sendiri, terlalu menggantungkan ke orang lain, terlalu merepotkan orang lain. Padahal mereka gaada kewajiban buat penuhin ego dalam diriku. Tapi itu semua disalah artikan. Semua berawal dari nasi kotak itu, dari dia yang membelikanku makan. Padahal sebelumnya, tak ada yang perlu dikasihani dari caraku hidup. Aku hidup cukup, dengan menahan semua egoku tanpa pernah memaksa orang lain untuk mewujudkannya. Meski janji-janji yang mereka keluarkan terkadang menjadi titik hancurnya dinding pertahananku, tapi aku hanya melindunginya dengan kata “ngambek”.

Itulah kenapa aku selalu berusaha memutus rantai itu. Memutusnya agar kelak tak ada orang ngerasa terbebani atas semua itu. Aku tau diriku, aku tau gimana hausnya jiwa kecil yg ada dalam diriku itu dan semengerikan apa. Maka aku yg selalu melindungi dari mereka dengan membangun benteng yg tinggi, meski beberapa kali hancur dan lolos. Ternyata responku terhadap kekecewaan juga adalah sebuah boomerang untuk orang lain yg menyimpulinya dengan cinta. Dan membuatku terus-terusan merasa tidak layak dalam melakukan apapun bahkan untun merespon segala hal dari dunia luar. Itu yang membuatku ingin terus mengakhiri hubungan apapun.

Aku kesulitan mengakhirinya, dia selalu mengatasnamakan cinta. Aku sadar diri, aku memilih gimanapun caranya agar dinding-dinding itu tak perlu roboh lagi dan berulangkali harus kubangun lagi. Bahkan sesuatu standar yg ku lempar pun menjadi boomerang yang sangat berefek besar dalam lingkup traumaku.

Semua usaha dan kebahagiaan yg dikasih pun tak mempan untukku. Semuanya percuma. Aku tidak benar-benar menginginkannya dan semuanya tidak membuatku bahagia. Seolah uang dan materi mampu menyelesaikannya. Seolah aku bahagia dengan itu. Dan itu sudah bertahun-tahun, jauh sebelum ada ikatan yg sah ini.

Aku sadar aku ga selayak itu buat apapun, aku ga sebaik itu buat dapetin segala hal di dunia. Bahkan aku ga secantik itu buat dapetin yang selalu aku inginkan. Kayak ga worth it aja kalo aku dapetinnya, apalagi dengan embel-embel dicintai. Aku sadar dan aku selalu nyoba buat ngeakhirin semuanya, hubungan ini, rasa kewajiban dan tanggung jawab dia yang seolah harus selalu ada buatku. Aku tau bahwa emang ga bener-bener ada orang yg ikhlas ngidupin aku. Aku ga selemah itu buat ngadepin dunia, aku cuma butuh nangis diawal.

Entah apa lagi yang membuatku jadi dipandang seperti itu, sehingga hanya dengan menyuapiku materi semua selesai. Itu yg membuatku terus berusaha pergi dari sini. Bahwa aku tidak pernah dihargai selayaknya manusia, gaada obrolan dalam, gaada bimbingan, gaada kemesraan yang selama ini menjadi standarku. Semua lepas ketika dia sudah memberikan sesuatu. Dan aku pun mengikuti respon semua itu, sehingga tanpa kusadari semuanya udah gabisa dilanjutkan lagi.

Aku bebaskan kamu, kamu bisa pilih yang paling worth it, yang paling kamu mau, yang buat kamu sangat bersyukur keberadaannya. Aku dengan jiwa yang selalu mundur dari apapun ini akan legowo untun melanjutkan hidup tanpa harus terkekang didalamnya.

Posted In ,

Leave a comment