
Akupun selalu kepikiran kalo aku salah pilih suami dan ayah dari anakku. Dulu aku selalu jatuh cinta sama seseorang, pertama kali yang membuatku jatuh cinta adalah keluarganya. Bukan keluarga yang kaya, tapi keluarga yang memang kehadirannya penuh. Karena aku mencari rumah di keluarga lain. Satu-satunya hal yang bisa kupilih di dunia adalah rumah untukku dan anakku, keluarga untuk anakku. Tapi ternyata jiwa lemahku pada saat itu membawaku pada dunia seperti ini. Laki-laki yang membawaku jauh dari semuanya. Pun tidak bisa menjadi tempatku bersandar dan percaya.
Dari dulu, dari kecil, aku selalu berusaha membuat orang-orang sekitarku bangga padaku. Melakukan segala hal agar mata mereka melihatku dan bangga kepada ortuku. Tapi mau sebanyak apapun aku melakukannya, tetap tidak ada nilainya. Aku dianggap sama saja seperti kakakku yang brandalan, dijadikan pelampiasan dan dicari kesalaahan ketika orang lain yang berbuat salah. Apakah salah jika aku menginginkan semua hal ini? Dan mencari apa yang ingin aku dapatkan selama sisa hidup?
Bahkan orang yang tidak mengenalku secara langsung dan singkat saja berbicara seolah paling mengenalku. Mertuaku, katanya aku ga punya tittle lah, ga terlalu cantiklah, inilah, itulah. Dan semua yang kupercaya bahwa manusia dengan pemahaman agama yang baik bisa berperilaku dengan baik hanya omong kosong.
Berada dalam banyak masalah, tak pernah membuatku bergantung pada mereka. Kuselesaikan sendiri, meski terus mencoba mati berkali-kali. Kutangani sendiri, tanpa berisik dan bilang pada siapapun. Sebab di dunia ini gaada orang yang kupercaya bahkan itu ortuku. Tapi, pernah ada satu jiwa yang membaca kesedihanku kala itu. Semua orang yang beranggapan kalo aku orang yang tenang dan menyenangkan. Namun, ketika berada dalam empat mata, tiba-tiba dia bertanya “are u okay?” Sebuah kalimat yang tidak pernah aku bayangkan datang kepadaku. Seorang yang selalu ingin mendengar tentangku, ingin selalu membimbingku jikalau pemikiran dan jalan yang aku ambil salah. Seseorang yang takut aku tersesat dan berlumur dosa. Namun ternyata takdir tak berpihak padaku.
Tuntutan moral datang dari rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang. Dari kalimat-kalimat yang tidak pernah menyejukkan, selalu saja penyudutan tanpa tau apa yang sedang aku batasi. Bercerita pun takkan bisa menyelesaikannya, mungkin malah pandangan tajam dan penghakiman untuk dosa dan kesalahan yang memang bukan salahku dan diluar kendaliku (lagi).
Aku terus berusaha meyakinkan diriku bahwa aku berbeda dari dia (kakakku). Tidak seberengsek dan sedurhaka dia. Tapi kalimat-kalimat terakhir yang selalu menamparku bahwa mau seberapa yakin aku, tetap aku dianggap sama. Bahkan ketika dia jelas-jelas selalu membuat masalah, pun masih aku yang kena getahnya. Aku dibilang inilah, ga ngertiin kakakku, ngertiin ortu, dll. Terus siapa yang negrtiin aku? Siapa yang ngelakuin hal sebaliknya ke aku? Gaada…
Leave a comment